|
Written by Jariaman 'J Barus
|
|
Ketika berniat membeli sebuah pulpen di sebuah toko buku, aku bingung karena banyak sekali pilihan yang ada. Dari merk, warna, bentuk dan kemasan sangat beragam. Akhirnya aku menentukan sebuah pulpen yang agak mahal karena bentuknya yang indah dan terasa nyaman di tanganku. Aku memakainya untuk keperluan menulis dan mencatat hal-hal penting.
Tapi, sesudah beberapa hari kemudian aku mendapatkan masalah. Ketika aku pakai untuk menulis, di awal tulisan tinta yang keluar sangat tajam, tetapi beberapa saat kemudian tintanya terus memudar sampai akhirnya berhenti. Dari kejadian tersebut aku diingatkan kembali, bahwa isi pulpen lebih penting dari pada bentuknya yang indah, atau hanya sekedar kenyamanannya untuk menulis.
Demikian juga dengan tubuh manusia. Bagian dalam tubuh kita lebih penting dari pada bagian luarnya, karena bagian dalam kita mempengaruhi apa yang kelihatan diluar kita. Tetapi cenderung kita lebih memperhatikan tubuh bagian luar kita dari pada tubuh bagian dalam. Kita sering memperhatikan baju, celana, aksesori dan segala bentuk benda yang dapat membuat kita lebih tampil menarik. Aku tidak sedang mengatakan bahwa hal tersebut tidak boleh, tetapi alangkah indahnya jika kita lebih dahulu memperhatikan apa yang ada di dalam kita.
|
|
Written by Jariaman 'J Barus
|
|
Hati yang gembira adalah obat, tapi semangat yang patah mengeringkan tulang. Kalimat diatas benar-benar terasa buat saya secara pribadi saat menghadapi kesulitan-kesulitan dalam pekerjaan. Ketika tidak ada yang bisa diajak berdiskusi untuk satu kebingungan ada rasa putus asa. Dalam kondisi ini badan terasa lesu, tidak bergairah. Apakah anda juga pernah mengalami hal yang sama?
Pada saat seperti itu rasa pesimis sangat tinggi sehingga seolah-olah apa pun yang kita kerjakan tidak akan berhasil, atau paling tidak sangat sulit untuk dilakukan. Hal ini membuat kita stuck, dan tidak tahu harus mulai dari mana. Kehilangan arah dan prioritas adalah hal biasa yang dihadapi orang-orang yang menerima beban pekerjaan berlebih tanpa kemampuan untuk mengaturnya.
Jika kita larut dalam perasaan skeptis yang pasti kita akan bertemu dengan kegagalan, jadi jangan lama-lama mengasihani diri, serukan "Bangkit!", berdoa, mulai atur prioritas, dan kerjakan sekarang juga. Penundaan hanya akan menambah rasa negatif dan penumpukan masalah.
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
|
Page 9 of 28 |